Contoh Makalah Kemuliaan Nabi Muhammad SAW

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Sepanjang sejarah umat manusia masalah akhlak selalu menjadi pokok persoalan. Karena pada dasarnya, pembicaraan tentang akhlak selalu berhubungan dengan persoalan perilaku manusia dan menjadi permasalahan utama manusia terutama dalam rangka pembentukan peradaban. Perilaku manusia secara langsung ataupun tidak langsung masib menjadi tolak ukur untuk mengetahui perbuatan atau sikap mereka. Wajar kiranya persoalan akhlak selalu dikaitkan dengan persoalan sosial masyarakat, karena akhlak menjadi simbol bagi peradaban suatu bangsa.
Keberhasilan Rasulullah SAW dalam menyebarkan agama Islam benar-benar mengagumkan. Hanya dalam waktu kurang dari 25 tahun beliau berhasil mengubah masyarakat jahiliah yang sangat dekaden menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi dan sangat disegani bangsa-bangsa di sekitarnya. Oleh karena itu, program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha yang Beliau lakukan ialah pembinaan akhlak mulia yang harus ditanamkan kepada seluruh lapisan dan tingkatan masyarakat, mulai dari tingkat atas sampai tingkat bawah.
Dari hal tersebut, dapat kita ketahui bahwa akhlak dari suatu bangsa itulah yang menentukan sikap hidup dan laku perbuatannya. Apabila suatu bangsa (umat) itu telah rusak, maka hal ini juga akan mempengaruhi akhlak generasi-generasi mendatang. Terlebih lagi jika rusaknya akhlak tersebut tidak segera mendapat perhatian atau usaha untuk mengendalikan dan memperbaikinya.
Rumusan Masalah
1.      Apa itu Akhlak?
2.      Siapakah Nabi Muhammad SAW?
3.      Apakah gelar yang beliau dapatkan dan apakah artinya?
4.      Kesaksian orang-orang musyrik terhadap beliau
5.      Seperti apakah akhlak yang dimiliki oleh nabi Muhammad SAW?
Tujuan
1.      Mengetahui dan mengerti defenisi Akhlak
2.      Memahami Sejarah hidup nabi Muhammad SAW
3.      Dapat memahami dan meneladani akhlak dan budi pekerti nabi Muhammad SAW

Manfaat
1.      Dapat menjadi tambahan pengetahuan, guna sebagai bagian kecil dari   upaya untuk mengintrospeksi Akhlaq pada diri kita masing-masing
2.      Mengembangkan pemikiran yang kritis, terkait permasalahan-   permasalahan akhlaq yang sedang dihadapi
3.      Dapat meneladani dan menitukan akhlak yang dimiliki Rasulullah SAW




BAB 2
PEMBAHASAN
1.1  Pengertian Akhlak
            Menurut bahasa perkataan akhlak ialah bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.[1]
Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran lebih dahulu. Selain itu, akhlak merupakan satuan ukuran yang digunakan untuk mengukur ketinggian akal dan nurani seseorang.
            Nabi kita Muhammad SAW, adalah orang yang paling sempurna kemuliaan dan keharmonisan dirinya, sehingga Allah memujinya dengan firman: “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (berakhlak) yang agung”.(68:4)[2]
            A’isyah berkata, “Akhlak nabi Muhammad SAW adalah al-Qur’an. Beliau menyukai sesuatu yang al-Qur’an menyukainya dan marah terhadap sesuatu yang al-Qur’an membencinya”.
            Nabi bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia”.
Anas berkata, “Rasulullah Muhammad SAW adalah sebaik-baik manusia”. Ali ibn Abi Thalib menyampaikan hal yang sama.
1.2  Pembagian Akhlak
            Ada dua jenis akhlak dalam islam, yaitu akhlaqul karimah (akhlak terpuji) ialah akhlak yang baik dan benar menurut syari’at Islam, dan akhlaqul madzmumah (akhlak tercela) ialah akhlak yang tidak baik atau tidak benar menurut islam.[3]

1.3  Siapakah nabi Muhammad SAW?
            Nabi Muhammad SAW adalah rosul terakhir yang diutus oleh Allah SWT. Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awal, walaupun terdapat perbedaan mengenai tanggalnya. Kalangan syiah menyatakan bahwa beliau lahir pada hari jum’at tanggal 17 Rabiul Awal, sedangkan kalangan Sunni yakin bahwa nabi Muhammad SAW lahir pada hari senin tanggal 12 Rabiul Awal.[4]
1.4 Gelar nabi Muhammad SAW
            Sejak berusia 35 tahun, Muhammad bersatu dengan orang-orang Quraisy untuk memperbaiki Ka’bah. Beliau juga yang memutuskan tentang peletakan Hajar Al-Aswad di tempatnya. Waktu itu, nabi Muhammad SAW sangat dikenal terpuji sehingga kaumnya sangat mencintai Muhammad. Akhirnya beliau mendapatkan gelar Al-Amin yang artinya “orang yang dapat dipercaya”.
            Nabi Muhammad saw hidup sangat sederhana, membenci sifat angkuh serta sombong, menyayangi orang miskin, janda dan anak yatim dengan cara menolong mereka. Ia pun menghindari semua kejahatan yang dilakukan bangsa Arab pada masa itu, seperti meminum minuman keras, berjudi dan lain-lain. Oleh karena itu beliau dikenal dengan As-Sidiq yang artinya “yang benar”.
Menurut para teolog, esensi kenabian adalah Sidiq (benar), amanah, dakwah, cerdas, maksum, dan bebas dari semua kekurangan jasmani dan mental.
1.5 Kejujuran atau kebenaran
            Kejujuran atau kebenaran adalah dasar utama dari kenabian. Tidak ada kebohongan atau tipuan yang pernah terdengar dari mereka, entah itu secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi.[5]
            Al-Qur’an Menyatakan; Ceritakanlah kisah Ibrahim di dalam al-kitab ini. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi (Q.S. 19:41); dan ceritakanlah kisah Ismail di dalam Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi (Q.S. 19:54); dan ceritakanlah Idris di dalam Qur’an, sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan kami telah mengangkatnya  ke martabat yang tinggi.
            Kebenaran adalah poros kenabian. Tidak mungkin tidak, sebab jika seorang nabi berbohong , maka segala sesuatu yang berhubungan dengan agama ilahi akan mengecewakan. Kebohongan akan meyebabkan orang mempertanyakan misinya.[6] Allah berfirman:
Jika dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan (berbohong) atas nama Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian kami potong urat tali jantungya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dar kamu dapat menghalangi dari pemotongan urat nadi itu (Q.S. 69: 45-47).
1.6 Amanah (dapat Dipercaya)
            Sifat amanah Rosulullah, Nabi Muhammad terpercaya bagi semua ciptaan Allah. Dia setia dan tidak pernah menipu siapapun.
            Allah memilih Rasul karena sifat amanahnya yang mendalam hingga dia sepenuhnya mengabdikan diri untuk menyampaikan risalah Allah dengan jujur. Dia sangat peduli dengan tugasnya sehingga dia mengulang ayat-ayat ketika jibril membacakannya untuk dirinya Allah berfirmah:
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) al-Qur’an karena hendak cepat-cepat. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkan dan (membuatmu) membacanya. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya (Q.S. 75: 16-19).
            Karena Al-Qur’an diturunkan kepadanya sebagai suatu kepercayaan, maka dia menyampaikan kepada orang-orang dengan cara yang sebaik-baiknya. Dia mengabdikan hidupnya untuk tugas suci ini, senantiasa sadar akan tanggung jawabnya.
Peristiwa-peristiwa khusus yang menunjukkan sifat amanah dari Rasulullah, Rasulullah tidak pernah berniat menyembunyikan bahkan satu kata dari Al-Qur’an.[7]
Suatu ketika, karena terganggu melihat seorang sahabat berusaha mengecoh kudanya, Rasul berkata, “Jangan menipu hewan. Jadilah orang yang dipercaya untuk mereka”. Diwaktu yang lain, saat kembali dari perang. Beberapa sahabat mengambil beberapa anak burung dari sarangnya. Induk burung tak lama kemudian kembali, dan karena tidak menjumpai anak-anaknya, terbang berputar-putar dengan gelisah. Ketika Rasulullah diberi tahu hal ini, dia sangat sedih kemudian memerintahkan agar bayi-bayi itu dikembalikan segera. Perintah itu menunjukkan bahwa salah satu tanda amanah adalah tidak mengganggu makhluk hidup.[8]
Hubungan dengan orang lain. Rasulullah adalah dapat dipercaya dan menganjurkan orang lain untuk mengikuti suri tauladannya. Suatu ketika pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, istrinya Safiyyah, mengunjunginya saat dia sedang berjaga dimasjid. Saat dia menemani istrinya kembali kerumah, dua sahabat kebetulan sedang lewat. Kemudian Rasulullah menghentikan mereka, sambil membuka cadar istrinya, dia berkata:  “Ini istriku Syafiyyah”. Mereka berkata: “Allah melarang berburuk sangka terhadap engkau wahai Rasulullah”. Rasulullah memperingatkan mereka agar tidak berburuk sangka tentang dirinya karena itu bisa menebabkan hilangnya iman dan masuk neraka. Dia memberikan mereka dan kita sautu pelajaran, dengan mengatakan : “setan terus-menerus berputar di dalam darah seseorang.[9]
Amanah adalah sifat esensial dari iman sehingga Rasulullah pernah berkata: “Orang yang tidak dapat dipercaya bukan orang beriman”, mendeskripsikan orang yang beriman sebagai orang yang dapat dipercaya orang-orang untuk menjaga darah dan harta mereka.
Rasul berkata “ Berjanjilah padaku enam hal, maka aku akan menjanjikanmu surga: jika engkau bicara, bicaralah kebenaran; jika engkau berjanji, tunaikanlah; jika suatu dipercayakan kepadamu, jangan melanggarnya; jaga kesucianmu dan jangan melakukan zina; jangan melihat yang diharamkan dan jangan mengambi apa yang diharamkan”.
Bahkan melihat orang yang bukan mukhrimnya dengan nafsu adalah dilarang. Allah berfirman: “ pandanglah sepintas (seperti itu) adalah panah racun dari busur setan. Siapa saja yang menahan diri karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menanamkan iman dengan kuat dalam hati mereka agar mereka akan merasakannya”.[10]
1.7 Kelembutan dan Kesabaran Nabi
            Kelembutan dan kesabaran adalah dimensi lain dari sifatnya.  Dia adalah cermin mengkilap di mana Allah merefleksikan Rahmat-Nya. Kelembutan adalah refleksi dari kasih-sayang. Allah menjadikan Rasul-Nya lembut dan halus, dan karena itu membuat dirinya mampu mengajak banyak orang untuk memeluk islam dan mengatasi begitu banyak rintangan.
1.7 Kesaksian orang-orang musyrik pada awal Bi’tsah[11]
            Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam shahih-nya dari ibnu Abbas Ra. Dia berkata, tatkala turun ayat:
 “Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu yang terdekat...(Asy Syu’ara 214)
            Rasulullah SAW segera naik ke atas bukit Shafa, kemudian beliau berseru: “Hai Bani Fihr, Bani Adiy, dan suku Quraisy yang lain..” Beliau memanggil orang-orang dari suku-suku Quraisy sehingga mereka berkumpul. Orang yang berhalangan datang mengutus wakilnya untuk melihat ada apa gerangan. Tibalah Abu lahab bersama beberapa orang Quraisy lainnya, kemudian Rasulullah berkata kepada mereka, “Jika kalian kuberitahu bahwa di lembah sana terdapat pasukan berkuda hendak menyerang kalian, apakah kalian mempercayaiku?” Mereka menyahut, “Ya”, kami belum pernah menyaksikan anda berdusta”. Kemudian beliau melanjutkan, “sesungguhnya aku datang untuk memberi peringatan kepada kalian bahwa di depan kalian terdapat siksa yang keras!” mendengar itu Abu Lahab berteriak, “Binasalah engkau selama-lamanya! Untuk itulah engkau mengumpulkan kami?” maka saat itulah turun surat Al-Lahab.
1.8 Akhlak Rasulullah SAW dalam Kehidupan[12]
Akhlak Rasulullah SAW sebagai seorang manusia secara pribadi, dapat kita contoh dalam kegiatan Beliau sehari-hari, mulai dari cara beliau tidur, makan, minum, berjalan, tersenyum, berbicara, marah, tertawa, beribadah pada-Nya, dan lain sebagainya.


Rasulullah SAW Makan dan Minum
Rasulullah SAW selalu memulai makan atau minum dengan membaca basmalah, menggunakan tangan kanan. Beliau juga sangat memperhatikan kehalalan dan kesederhanaan makanannya. Rasul hanya makan makanan yang dihalalkan oleh-Nya, sedangkan kesederhanaan yang dimaksud di sini adalah dari segi jumlahnya, Beliau tidak makan berlebihan, beliau makan di saat lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Rasulullah SAW Tersenyum, dan Berbicara
Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat mulia akhlaknya, manis sikapnya, dan sangat terjaga ucapannya. Beliau selalu tersenyum dan menyapa siapa saja yang dijumpainya. Beliau tidak berbicara kecuali yang penuh manfaat, dan menganjurkan lebih baik diam daripada berbicara sia-sia. Cara berbicaranya sangat tenang, sehingga ucapannya jelas, dan tujuannya yang ingin disampaikannya pun bisa dimengerti oleh siapa saja yang menjadi pendengarnya
Rasulullah SAW Berjalan dan Bergaul
Rasulullah SAW selalu berjalan dengan sikap yang wajar dan optimis, tidak bersikap sombong atau takabur di hadapan orang yang ditemuinya. Beliau selalu mendahului untuk menyapa dan mengucapkan salam; jika ada orang yang menyapa maka beliau akan berpaling dengan seluruh tubuhnya menghadap orang yang menyapanya. Beliau juga sangat menjaga pandangan terhadap laki-laki maupun perempuan. Rasul pun melarang berbaurnya laki-laki dan perempuan di jalanan.
Pemalu dan Merendahkan Pandangan Mata
Yang dimaksud pemalu adalah sikap kesopanan yang menjadikan seseorang mamalingkan muka terhadap hal-hal yang tidak disukainya atau dari sesuatu yang sepantasnya. Sedangkan yang dimaksud merendahkan pandangan mata adalah menghindarkan pandangan mata dari sesuatu yang tidak dapat dibenarkan oleh kebanyakan manusia
Nabi Muhammad adalah orang yang paling pemalu dan bersikeras menghindarkan mata nya dari melihat anggota badan yang  bersifat pribadi.
Abu Sa’d al-khudri berkata : “ Rasululallah adalah lebih pemalu daripada gadis pingitan. Ketika beliau tidak menyukai sesuatu, kami segera mengenali dari raut muka nya [13]
Belas Kasih dan Penyayang
Sehubungan dengan belas kasih, lemah lembut dan pembawa rahmat bagi seluruh makhluk, Allah berfirman: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keselamatan bagimu, amat belas kasih lagi penyayang kepada orang-orang mu’min (9:128), dan firmannya: “Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam” (21:107).
Kerendahan hati nabi
Abu umama berkata : “ Rasululallah SAW datang kepada kami yang sedang bersandar pada sebuah tiang lalu kami berdiri untuk menghormat kedatangan beliau. Kemudian nabi bersabda : “ jangan lah bangkit (berdiri) sebagaimana bangsa perssi berdiri untuk memperlihatkan ketinggian masing-masing”..
Beliau bersabda ; “ saya seorang hamba, saya makan dan wudhu sebagaimana seorang hamba makan dan duduk”.
Selalu tawakal kepada Allah SWT (tercermin ketika nabi muhammad SAW selalu mendapat tantangan dan cobaan disetiap harinya)
Pandai menghargai
Ada sepenggal kisah ketika ada sahabat terlambat datang  ke Majelis nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia meminta izin untuk mendapatkan tempat, namun sahabat yang lain tidak memberinya tempat. Ditengah kebingungannya , rasul memangil nya .
Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup sampai disitu Rasul melipat sorbannya lalu di berikan kepada sahabatnya tersebut untuk dijadikan alas untuk duduk. Sahabat tersebut dengan berlinang air mata menerima sorban tersebut namun  tidak mennjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban nabi. Lihat lah bagaimana nabi menghargainya sampai sampai sahabatnya menangis karena tersanjung.
Adil, Jujur dan Terpercaya.
Nabi Muhammad adalah orang yg paling terpercaya, adil, santun dan jujur. Bahkan pihak lawan dan musuhnya mengakui pribadi nabi tersebut sebelum menjadi rasul masyarakat mekah memberinya gelar Al-Amin (Orang Bijak dan Terpercaya). Ibn Ishaq berkata: “Dia mendapatkan gelar Al-Amin lantaran sifat-sifat utama yg dikumpulkan Allah pada dirinya”.
Dalam hal ini Allah berfirman: “Yang ditaati disana (Alam malaikat) lagi terpercaya” (81:21). Sebagian besar Mufassir berpendapat ayat tersebut merujuk pada Nabi Muhammad SAW.[14]

1.9 Kepribadian
Nabi Muhammad SAW memiliki kepribadian yang sangat menarik sehingga semua sahabat mencinntai nya lebih dari apapun yang ada di dunia ini.
Beliau diberi wajah yang menarik dan setiap orang menghormatinya. Sewaktu mudanya, semua orang di kurais menamakannya “Siddik dan Amin dan beliau sangat dihargai dan dihormati oleh semua orang,termasuk para pemimpin Mekkah. Ketika beliau mulai melakukan tugasnya mengajak orang ke jalan Allah, orang kurais mengirim Utba bin Rabia padanya untuk mencari suatu kompromi. Ketika Utba berbicara padanya dan Muhammad membacakan beberapa ayat padanya , Utba kembali dan mengatakan pada kaumnya orang kurais, “Turutilah nasihatku dan jangan ganggu beliau”.
Mereka berkata, “ Nabi telah menyihirmu dengan lidahnya”
Nabi memiliki kepribadian dan kekuatan bicara yang demikian memikat dan menonjol, sehingga siapapun yang pergi kepadanya pasti akan kembali dengan keyakinan akan ketulusan dan kejujuran pesannya.[15]
1.10 Kebijaksanaan terhadap Bangsa Yahudi
Sifat-sifat Muhammad sendiri yang  pengasih, rendah hati, baik dan ramah menyebabkan beliau disukai oleh banyak orang yahudi dan memperoleh tempat terhormat dan terpandang mereka. Karena sifat-sifat yang mulia inilah Muhammad dapat mengadakan suatu perjanjian pertahanan bersama dengan orang yahudi Mekkah. “Hai Nabi! Ajaklah orang-orang untuk mengikuti jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan bahaslah segala sesuatu dengan mereka  dengan cara yang sebaik munkin” (16:125)[16]
Nabi telah menjalankan kebijaksanaan yang bersahabat terhadap orang Yahudi, yang didasarkan pada kebijaksanaan, keharusan dan kebutuhan pada waktu itu. Sesungguhnya, beliau sangat lembut, ramah dan baik pada mereka dan berusaha sakuat tenaga untuk mendapatkan persahabatan dan dukungan mereka.
Beliau memperlakukan mereka dengan baik, dan menghargai mereka sebagai pengikut kitab suci yang terhormat, namun mereka namun mereka tidak memperdulikan kemauan baiknya, dan bahkan melanggar perjanjian yang dibuat dengan nabi dan melakukan segala jenis kegiatan bermusuhan, pengkhianatan, agresi dan persekongkolan dengan musuh pihak muslim[17]

1.11 Penilaian atas diri Muhammad sebagai seorang Pemimpin Militer
Muhammad adalah seorang utusan Tuhan dan seorang pendidik bagi ummat manusia yang ingin mengajarkan pada ummat pada ummat manusia jalan hidup yang betul dan membimbingnya ke jalan kebenaran, kebaikan, keadilan dan perdamaian.[18]


  
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran lebih dahulu. Selain itu, akhlak merupakan satuan ukuran yang digunakan untuk mengukur ketinggian akal dan nurani seseorang.
Nabi kita Muhammad SAW, adalah orang yang paling sempurna kemuliaan dan keharmonisan dirinya, sehingga Allah memujinya dengan firman: “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti (berakhlak) yang agung”.

Saran
Alangkah baiknya setelah kita mempelajari dan mempahami ahlak nabi muhammad, dan kita meladani ahlak nabi dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk amalan perbuatan. 


















DAFTAR PUSTAKA

Malik,Abdul ali al-kulaib.1992.’Alamatun Nubuwwah.Jakarta:Gema Insani Press
Ibn Musa Al yahsubi,Qodi ‘Iyad.2002. Keagungan kekasih Allah Muhammad SAW.Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada.
Azra,Asyumardi.2002.Kehidupan rosulullah Muhammad SAW.Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada.
www.AnneMone.blogspot.com
www.IslamInstitutNews.com
Mustofa,Ahmad.1997.Akhlak Tasawuf.Bandung:Pusaka Setia
Abdullah,Yatimin.2007.Study Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Amzah
M. Fethullah Gulen. 2002.Versi Terdalam Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW .Jakarta: Pt. RajaGrafindo Persada.Terj: Tri Wibowo Budi Santoso.
Rahman afzalur. 1991.Nabi Muhammad sebagai seorang Pemimpin Militer (Jakarta BUMI ASKARA agustus)


[1] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf,(Bandung:Pusaka Setia, 1997), hlm. 11.
[2] Qody Iyad Ibn Musa Al Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah Muhammad SAW, (Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada, 2002), Hlm 82.
[3] Yatimin Abdullah, M.A, Study Akhlak dalam Perspektif Al-qur’an,(Jakarta:Amzah, 2007), hlm 12.
[4]  AnneAhira.com diakses tanggal 09 september 2014,17:27 wib
[5] M. Fethullah Gulen, Versi Terdalam Kehidupan Rasul Allah Muhammad SAW (Jakarta: Pt. RajaGrafindo Persada, 2002),Terj: Tri Wibowo Budi Santoso, Hal 35
[6] Ibid., Hal 39
[7] Ibid., Hal 62-63.
[8] Ibid., Hal 65
[9] Ibid., Hal 64
[10] Ibid., Hal 70-71
[11] Malik Ali Al Kulaib Abdul, ‘Alamatun Nubuwaah,(Jakarta:Gema Insani press,1992),hal 38
[12] AnneMone.blogspot.com, diakses 09 september 2014,17:20 wib
[13]Qody ‘Iyad Ibn Musa Al Yahsubi,op.cit.,Hlm 99
[14]Ibid.,Hlm. 112-113
[15]Rahman afzalur, ‘ Nabi Muhammad sebagai seorang Pemimpin Militer (Jakarta BUMI ASKARA agustus 1991 .Penerjemah ‘anas siddik ‘ Hal
[16] Ibid.,hlm:268
[17] Ibid., hlm 271
[18] Ibid.,hlm 315



MAKALAH AKHLAK “AKHLAK KEPADA RASULULLAH”
Posted on Januari 18, 2015 by Annafi Muja Standar
7

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur sebelumnya penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AKHLAK KEPADA RASULULLAH” ini dengan tepat waktu. Sholawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nanti – nantikan di yaumul kiamah nanti.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

Bapak Khairunnas Rajab, M.Ag, selaku dosen yang telah memberikan arahan kepada kami dalam rangka penyelesaian makalah ini.
Kepada orang tua yang telah memotivasi kami sehingga makalah ini terselesaikan.
Kepada teman – teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam penulisan maupun penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan dan penulisan makalah ini kedepannya.





Pekanbaru, Desember 2014





Penulis















BAB I

PENDAHULUAN



Latar Belakang
Sebagai seorang muslim kita harus berakhlak kepada Rasulullah SAW, meskipun beliau sudah wafat dan kita tidak berjumpa dengannya, namun keimanan kita kepadanya membuat kita harus berakhlak baik kepadanya, sebagaimana keimanan kita kepada Allah, membuat kita harus berakhlak baik kepada-Nya. Pada dasarnya Rasulullah SAW adalah manusia yang tidak berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, terkait dengan status “Rasul” yang disandangkan Allah atas dirinya, maka terdapat pula ketentuan khusus dalam bersikap terhadap utusan yang tidak bisa disamakan dengan sikap kita terhadap orang lain pada umumnya.

Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul adalah:

Mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw ?, dan
Bagaimana cara berakhlak kepada Rasulullah Saw ?
Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:

Menjelaskan mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw.
Menjelaskan bagaimana cara berakhlak kepada rasulullah.




















BAB II


PEMBAHASAN


“Akhlak Kepada Rasulullah”

Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَ كُمْ رَسُولٌ مِّنْ أُنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِاُ لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُ وْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang – orang yang beriman.” (Q.S. at-taubah : 128)

Iman kepada para nabi merupakan salah satu butir dalam rukun iman. Sebagai umat islam, tentu kita wajib beriman kepada Rasulullah saw. beserta risalah yang dibawanya. Untuk memupuk keimanan ini, kita perlu mengetahui dan mempelajari sejarah hidup beliau, sehingga dari situ kita dapat memetik banyak pelajaran dan hikmah.

Ditinjau dari silsilah keturunannya, nama lengkap Rasulullah adalah Abu Qasim Muhammad bin ‘abdillah bin ‘abdil Muthathalib bin Khasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy bin Khilab bin Murrah bin Ka’ bin Lu-ayy bin Ghalib bin fihhr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas binMudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘adnan, dan Adnan adalah salah satu keturunan Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. [1]

Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, serta utusan Allah kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, makhluk paling mulia dihadapan Allah, derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat oleh Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagi rahmad bagi alam semesta.



Sebagaimana firman Allah :

وَمَآ أَرْسَلْنَكَ أِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَلَمِيْنَ

“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmad bagi seluruh alam” (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 107). [2]

Allah menurunkan kitab-Nya kepadanya mengamanahkan kepadanya atas agama-Nya, dan menugaskannya untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindunginya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah itu. Allah ta’ala mendukung nabi-Nya dengan mukzizat-mukzizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas, memperbanyak makan untuk beliau, memperbanyak air. Dan beliau mengabarkan sebagian perkara ghaib.

KEWAJIBAN MENCINTAI RASULULLAH
Mencintai Rasulullah adalah wajib dan termasuk bagian dari iman, semua orang islam mengimani bahwa Rasulullah adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Makna mengimani ajaran Rasulullah Saw adalah menjalankan ajarannya, menaati perintahnya dan berhukum dengan ketetapannya.

Ahlus sunah mencintai Rasulullah Saw dan mengagungkannya sebagaimana para sahabat beliau mencintai beliau lebih dari kecintai mereka kepada diri mereka sendiri dan keluarga mereka, sebagaimana sabda Rasulullah :

لايؤمن أحدكم حتّى اكون أحبّ اليه من نفسه ووالِده وولَده والنّاس أجمعين.

Artinya: Tidak beriman salah seorang diantaramu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya. (H.R. Bukhari Muslim).[3]

Sebagaimana yang terdapat dalam kisah “Umah bin Khaththab r.a., yaiu sebuah hadis dari sahabat ‘Abdullah bin Hisyam r.a, ia berkata ’ :

“kami mengiringi Nabi dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin Khaththab r.a,’ kemudian Umar berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat kucintai melebihi apapun selain diriku”, maka Rasulullah menjawab “tidak, demi yang jiwa ku berada ditangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu”, lalu Umar berkata “Sungguh sekaranglah saatnya, demiAllah engkau sangat kucintai melebihi diriku” maka Rasulullah berkata : “sekarang engkau benar wahai Umar”. (H.R. Al-Bukhori).[4]

Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31).[5]



Berdasarkan hadis-hadis diatas, maka mencintai Rasulullah adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaannya kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasulullah adalah kecintaan karena Allah, ia akan bertambah seiring dengan kecintaannya kepada Allah.



TAAT
Kita wajib menaati nabi Muhammad Saw dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah rasul (utusan Allah). Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk menaati nabi Muhammad Saw. diantaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

يَـأيُّهَا اْلَذِيْنَ ءَامَنُواْ أَطِيْعُواْ اللَّهُ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُولُ…

“Wahai orang-orang yang beriman ‘taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad)’…..” (Q.S. Annisa : 59).

Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yg beriman dengan seruan “Hai orang-orang yg beriman” sebagai suatu pemuliaan bagi mereka karena merekalah yg siap menerima perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Dengan seruan iman merekapun menjadi semakin siap menyambut tiap seruan Allah SWT. Kewajiban taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya adalah dengan melaksanakan perintah-perintah -Nya serta larangan-larangan -Nya.

Kaum muslimin harus taat kepada Ulil Amri apabila dalam memerintah mereka menyeru kepada yg ma’ruf dan mencegah yg munkar. Akan tetapi jika mereka menyuruh kepada hal-hal yg dapat melalaikan kewajiban untuk taat kepada Allah SWT atau bahkan menyuruh perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT maka tiap kita kaum muslimin tidak boleh menaatinya. Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yg ma’ruf dan tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam maksiat terhadap sang Khaliq.

Jika terjadi perbedaan pendapat di antara kaum muslimin atau antara mereka dengan Ulil Amri atau sesama Ulil Amri maka wajib baginya mengembalikan persoalan itu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu dengan merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.[6]

Jika benar-benar beriman seseorang hanya akan kembali kepada kitabullah dan unnah Rasul-Nya dalam menyelesaikan segala perkara dan tidak akan berhukum kepada selain keduanya. Jika tidak maka iman seseorang dapat diragukan dari ketulusannya.
Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir ia akan taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia mengimani benar bahwa Allah SWT sesungguhnya Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang nampak maupun yang tersembunyi

Terkadang pula Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasulullah, sebagaimana firman-Nya :

…فَلْيَحْذَرِالَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ،أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْيُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“… Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. An-Nur : 63).[7]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah, atau siksa pedih didunia. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan amounan atas dosa-dosanya, sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan.

Allah mengebarkanbahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah berfirman :

لَّقَدْكَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْكَانَ يَرْجُوْاْ اللَّهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَوَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada diri rasulullah itu suri teladan yang baik untuk mu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmad) Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah ” (Q.S. Al-Ahzaab : 21).

Al-Hafizh Ibnu Katsir r.a. berkata : “ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani rasulullah Saw dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya.” Untuk itu, Allah Swt memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran nabi dalam menanti pertolongan dari Rabb nya ketika perang ahzab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan salawat kepada beliau hingga hari kiamat.[8]

Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya, karena itu para sahabat ingin menjaga citra kemuliaannya dengan mencontohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul- Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah swt, di dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:



مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

“Barang siapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).

Di dalam ayat lain, Allah swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS 47:33).[9]



Manakala seorang muslim telah mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kenikmatan sebagaimana yang telah diberikan kepada para Nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh, bahkan mereka adalah sebaik-baik teman yang harus kita miliki, Allah swt berfirman:



وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ﴿ألنسا ٦٩﴾



“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama- sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS 4:69).

Oleh karena itu, ketaatan kepada Rasulullah saw juga menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga. Adapun orang yang tidak mau mengikuti Rasul dengan apa yang dibawanya, yakni ajaran Islam dianggap sebagai orang yang tidak beriman.



MENGHIDUPKAN SUNNAH
Bagi seorang muslim, mengikuti sunah atau tidak bukan merupakan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Sebab, mengenalkan ajaran Islam sesuai denagn ketentuan Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban yang harus diaati. Mengenai kewajiban mengikuti Nabi dan menaati sunnahnya serta mengikuti petunjuknya, Allah berfirman :



…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7).[10]



Kemudian, Allah berfirman yang artinya :

“Berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan semua firman-firman-Nya. Hendaklah kamu mengikutinya, niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk”. (7 : 157).

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Al-Qur’an adalah berat dan sulit bagi orang-orang yang membencinya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan apa yang aku katakan, memahami dan menguasaianya, maka ia akan mendapatkan bahwa perkataanku adalah sama dengan al-qur’an. Barangsiapa meremehkan dan mengabaikan al-qur’an serta perkataanku maka ia akan merugi didunia ini dan diakhirat nanti. Ummatku diperintahkan menuruti perkataanku dan perintahku dan mengikuti sunnahku. Barangsiapa rela terhadap perkataanku mestilah ia rela terhadap al-qur’an”.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menghadirkan sunnahku kedalam kehidupan maka sunggu ia telah menghadirkanku kedalam hidupnya. Dan barangsiapa menghadirkan aku dalam hidupnya ia akan bersama ku dalam surga”.

Kemudian ‘Amr ibn ‘Awf al-Muzani berkata bahwa rasulullah mengakatakan bahwa Bilal ibn al-Harits : “ barang siapa meghidupkan kembali sunnahku setelah wafatku ia akan menerima pahala dari semua orang yang bertindak dengan sunnahku tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barang siapa memperkenalkan bid’ah sehingga Allah dan Rasul-Nya tidak berkenan karenanya ia akan sama seperti mereka yang bertindak dengan beliau tanpa mengurangi sedikitpun hukuman mereka.”.[11]

Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

Selain itu, Rasul Saw juga mengingatkan umatnya agar waspada terhadap bid’ah dengan segala bahayanya, beliau bersabda:

”Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

Al-Hasan ibn al-Hasan meriwayat bahwa Rasulullah bersabda : “Mengerjakan perkara kecil yang tergolong sunnah adalah lebih baik daripada melakukan banyak hal yang tergolong bid’ah.”.

Al-‘Irbad Sarriya menyampaikan peringatan Rasulullah “Kamu haruslah mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang tertunjuki. Berpegang teguhlah kepada-Nya denga kuat dan berhati-hati terhadap hal-hal yang baru. Hal-hal baru ini adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Jabir menambahkan “setiap kesesatan berada dalam neraka.”

Secara umum bid’ah adaah sesat karena berada diluar perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, akan tetapi banyak hal yang membuktyikan, bahwa Nabi membenarkan banyak persoalan yang sebelumnya belum pernah beliau lakukan. Kemudian dapat disimpulkan bahwa semua bentuk amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulullah, selama tiak melanggar syari’at dan mempunyai tujuan , niat mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan ridho-Nya, serta untuk mengingat Allah serta Rasul-Nya adalah sebagian dari agama dan itu dperbolehkan dan diterima.

Sebagaimana nabi bersabda :

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat dan setaiap manusia akan mendapat sekedar paa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya (tujuannya) itu adalah karena Alah dan Rasul-Nya, hijrahnya (tujuan) itu adalah berhasil.” (H.R. Bukhari)



Banyak sekali orang yang memfonis bid’ah dengan berdalil pada sabda Rasulullah :

“setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Juga hadis Rasulullah :

“barang siapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia ditolak”.

Mereka tidak memperhatikan terlebih dahulu apakah yang baru diakukan itu membawa kebaikan dan yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah payah memperoleh kebaikan.

Ditambah lagi tuduhan golongan orang ingkar mengenai suatu amalan , adalah kata-kata sebagai berikut : Rasulullah tidak pernah memerintah dan mencontohkannya. Begitu pula para sahabat tidak ada satupun diatara mereka yang mengerjakannya. Dan jikalau perbuatan itu baik kenapa tidak dilakukan oleh Rasulullah, jika mereka tidak melakukan kenapa harus kita yang melakukannya. Bahkan dengan hal itu mereka menyebutkan bahwa hal baru seperti tahlilan atau berzikir bersama adalah bid’ah, dan itu adalah sesat.

Dimana harus kita fahami macam-macam sunnah, antara lain adalah :

Sunnah Qauliyyah : sunnah dimana Rasulullah saw sendiri menganjurkan atau menyarankan suatu amalan, tapi tidak ditemukan bahwa rasulullah tidak pernah mengerjakannya secara langsung. Jadi sunnah ini adalah sunnah rasulullah yang dalilnya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan hanya diucapkan saja oleh beliau. Contohnya adalah hadis rasulullah yang menganjurkan orang untuk belajar berenang, tetapi kita belum pernah mendengar rasulullah atau para sahabat belajar berenang.
Sunnah Fi’liyah : sunah yan ada dalilnya dan pernah dilakukan langsung oleh Rasulullah. Misalkan sunnah puasa senin kamis, makan dengan tangan kanan, dan lain-lain.
sunnahTaqriyyah : sunah dimana Rasulullah tidak pernah melakukan secara langsung dan tidak pula pernah memerintahkannya. Melainkan hanya mendiamkannya saja. Contohnya adalah beberapa amalan para sahabat yang saat dilakukan rasulullah mendiamkannya saja.[12]
Begitu juga dengan amalan ibadah yang belum pernah dilakukan nabi dan para sahabat juga tidak pernah disampaikan dan tidak pula didiamkan oleh beliau, yaitu yang dilakukan oleh para ulama. Misalkan mengadakan majlis maulidin Nabi Saw dan yasinan. Tidak lain para ulama yang melakukan ini adalah mengambil dalil-dalil dari kitabullah yang menganjurkan agar manusia selalu berbuat kebaikan atau dalil tentang pahala bacaan dan amal ibadah. Dan berbuat kebaikan ini banyak caranya asalkan tidak bertentangan dengan islam.








Mari kita rujuk ayat al-qur’an berikut :



…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7). [13]

Dalam ayat ini jelas bahwa perintah untuk tidak melakukan segala sesuatu jika telah tegas dan jelas larangannya.

Dan dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh bukhari :

“Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah.”.

Maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa bid’ah yang dianggap sesat adalah menghalalkan sebagian dari agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Serta bertentangan dengan yang telah disyari’atkan oleh islam. Contoh bid’ah sesat yang mudah adalah sengaja shalat tidak menhadap kiblat, mengerjakan shalat dengan satu sujud, atau yang lebih banyak terjadi adalah bagi masyarakat keraton yaitu mendo’akan orang yang telah meninggal dengan sesaji serta memohon kepada Allah dan berdzikir menggunakan sesaji. Itulah yang dianggap sesat karna sesaji tidak ada dalam islam dan itu menyimpang dari stari’at islam.

Dengan demikian, menghidupkan sunnah Rasul menjadi sesuatu yang amat penting sehingga begitu ditekankan oleh Rasulullah Saw.

Contoh-contoh sunnah Rasulullah adalah :

Istigfar setiap waktu
Menjaga wudhu
Bersedekah
Shalat dhuha
Puasa Muharram dan shalat tahajud :
Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : “ Rasulullah Saw bersabda :



أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ وَأَضَلُ الصَّلاَ ةِ بَعْدَالفَرِيْضَة صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa sesudah Ramadhan adalah puasa dibulan Muharram dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardu ialah shalat malam.” ( H.R. Muslim no.1163).[14]



MEMBACA SHALAWAT DAN SALAM.
Diantara hak Nabi Saw yang disyariatkan Allah atas umatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Swt dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau dan Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلئِكَتَهُ, يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ, يـآيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُواْصَلُّواْعَلَيْهِ وَسَلِّمُواْتَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. ‘Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’” (Q.S. Al-Ahzab : 56).

Al-Mubarrad berpendapat bahwa akar kata bershalawat berarti memohonkan rahmad dengan demikian shalawat berarti rahmad dari Allah sedang shalawat malaikat berarti pengagungan dan permohonan rahmad Allah untuknya.[15]

Jika bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu, hendaklah tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya).” Atau hanya mengucapkan ‘alaihissalam (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan)”. Jadi digabung : “washshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah, atau Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyina Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”. hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Saw, diperintakan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib dan sunnah muakaddah. Diantara waktu itu adalah ketika shalat diakhir tassyahud, diakhir qunud, saat khutbah seperti khutbah jum’at dan khutbah hari raya, setelah menjawab mu’adzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar masjid, jugaketika menyebut nama beliau.

Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kaum muslimin tentang tata cara mengucapkan shalawat. Rasulullah menyarankan agar memperbanyak shalawat kepadanya pada harijum’at, sebangaimana sabdanya :



أَكْثِيْرُ الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهِ عَشْرًا

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat untukku pada hari dan malam jum’at, barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya 10 kali.”



Kemudian ibnul qayyim menyebutkan beberapa manfaat dari membaca shalawat kepada Nabi, diantaranya adalah :

Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah
Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bai yang bershalawat sekali untuk beliau
Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat
Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi, diiringi permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau pada hari kiamat
Sebab diampuninya dosa-dosa
Shalawat adalah sebab sehingga nabi menjawab orang yang mengucapkan shalawt dan salam kepadanya.
Para ulama ahlus sunnah telah banyak meriwayatkan lafadz-lafadz shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, diantaranya :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَهِيْنمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِبدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad , sebagaimana engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”[16]



MENCINTAI KELUARGA NABI
Mengikuti kerabat rasulullah Saw yang mulia dan berlepas diri dari musuh mereka, adalah masalah penting yang telah diwajibkan oleh islam dan telah dianggapnya sebagai bagian dari cabang agama. Rasulullah menggambarkan ahlil baitnya sebagai suatu benda yang berat dan berharga, sebanding dengan al-qur’an dan benda berharga lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara yang besar untuk kalian, yang pertama adalah Kitabullah(Al-Quran) dan yang kedua adalah Ithrati(Keturunan) Ahlul baitku. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya hingga bertemu denganku ditelaga al-Haudh.” (HR. Muslim dalam Kitabnya Sahih juz.2, Tirmidzi).[17]

Nabi Saw bersabda :

“Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmu kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya, berarti telah mengambil bagian yang besar”. (HR. Abu daud dan Tirmidzi)

Karena ulama disebut sebagai pewaris Nabi, maka orang yang disebut ulama seharusnya tidak hanya memahami tentang beluk beluk agama Islam, tapi juga memiliki sikap dan kepribadian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi dan ulama seperti inilah yang harus kita hormati. Adapun orang yang dianggap ulama karena pengetahuan agamanya yang luas, tapi tidak mencerminkan pribadi Nabi, maka orang seperti itu bukanlah ulama yang sesungguhnya dan berarti tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

Rasulullah menyebut keluarga sucinya sebagai jalan kebebasan, pintu keselamatan, dan cahaya petunjuk. Rasulullah juga mewajibkan kita untuk mencintai dan menaati mereka.

Dari abi dzarr ia berkata, ‘saya mendengar Rasulullah Saw bersabda’: “Jadikanlah ahlul baitku bagimu tidak ubahnya seperti kepala bagi tubuh dan tidak ubahnya dua mata bagi kepala. Karena sesungguhnya tubuh tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kepala, dan begitu juga kepala tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kedua mata.”.

Kecintaan kepada kerabat Rasulullah Saw yang di istilahkan sebagai ahlul bait manfaatnya kembali kepada orang yang melakukannya. Rasulullah mengatakan bahwa kecintaan ini merupakan upah dari Allah Swt atas risalah yang disampaikannya. Sebagaimana firman Allah, “katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah apapun atas seruanku, kecintaan kepada keluargaku” (Q.S. Asy-syura : 23).

Kecintaan yang disebutkan disini bukanlah kecintaan biasa, melainkan kecintaan yang mendorong manusia kepada maqam kedekatan ilahi, dan mampu memasuki pintu kebahagiaan abadi.[18]

Mengenai ruang lingkup ahli bait ini, para ulama masih berbeda penafsiran. Antara lain adalah :

Menurut ahlus sunnah, cakupan ahli bait sangat luas dan beragam, mulai dari Ali, Hasan, Husein dan keturunannya, istri-istri Nabi saw., keluarga ja’far dan keluarga Abbas, serta bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim. Kepada a-‘Abbas Nabi bersabda: “Demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, keyakinan tidak akan munculah didalamhati seseorang sampai dia mencintai Allah dan Rasulullah. Barang siapa mencelakai paman saya ini berarti mencelakai saya. Seorang paman adalah seperti ayah sendiri”
Nabi juga berkata kepada al-‘abbas : “Berkanlah makanan kepada Ali dengan makanan yang engkau berikan kepada anak-anakmu, wahai pamanku.”. kemudian nabi mengumpulkan mereka dan menyelimuti mereka dengan jubahnya, sambil berkata, “Ini adalahpamanku dan layaknya ayahku dan mereka adalah Ahlul Baitku, jadi lindngilah mereka dari api neraka seperti saya menyelimuti mereka” Pintu dan dinding menjawab, Amin ! Amin !”.

Nabi sering menggandeng tangan Usamah ibn Zayd dan al-Hasan dan berkata : “cintailah mereka ya Allah, sebagaimana saya mencintai mereka”.

Abu bakar berkata : “Hormatilah nabi muhammad dengan menghormati Ahlul Baitnya”, ia juga berkata : “Demi Allah jiwaku dalam kekuasaan-Nya, kerabat terdekat Rasulullah lebih aku sayangi daripada kerabat dekatku sendiri.”

Rasul bersabda : “Allah mencintai siapa yang mencintai Hasan”.

Nabi juga bersabda : “Barang siapa mencintai dua orang tersebut dan ayah serta ibu mereka akan bersamaku pada hari kebangkitan”.

Rasulullah bersabda : “barang siapa merendahkan quraysh Allah akan merendahkan mereka”.

Rasulullah bersabda : “Cintailah kaum Quraysh dan janglah mendahului mereka”.

Kepada Ummu Salamah Nabi bersabda : “Janganlah melukaiku denagn menyakiti Aisyah”.[19]

Sedangkan bagi kalangan Syiah, istilah ahli bait lebih sempit lagi. Yaitu berkisar kepada 12 imam : Ali, Hasan, Husein dan 9 keturunan Husain.
Menurut Asy-Syeikh DR, Muhammad Abduh Al-Yamani menyimpulkan bahwa keluarga nabi saw., terdiri dari Fatimah, Ali, Hasan, Husain dan para keturunannya. Sedangkan istri Rasulullah juga termasuk keluarga Nabi Saw berdasarkan keumuman ayat Al-Qur’an serta konteks hadist.
Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari zaid bin Arqam r.a. disimpulkan bahwa diantara mereka yang termasuk ahli bait adalah anggota keluarga beliau ayng diharamkan menerima sadaqah yaitu keluarga Ali, keluarga Uqoil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas. Sesungguhnya istri-istri beliau juga termasuk dalam anggota ahlul bait.
Adapun istri-istri Rasulullah Saw dalam pendapat yang Raajih (benar) maka sesungguhnya mereka masuk kepada keluarga nabi. Sebagaimana firman Allah yang memerintahkan tentang berhijab kepada istri-istri Nabi, “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan kekejian dari kalian Ahlul bait (keluarga Rasulullah Saw) dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (Q.S)
Dalam kitab: ‘Alimu Awladakum Mahabbata Ahli Baitin Nabiy dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu ‘anhum.
Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan ke umuman ayat Al-Qur’an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga beliau.

Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka.” (QS. al-Ahzab: 6)[20]

Sedangkan sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman.

Dalam keyakinan kita Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut.

Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam, menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi Firman Allah SWT yang artinya:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kemu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta??atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilanghkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS al-Ahzab: 33)

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)

Kedua, Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya, melarang umatnya untuk menghina mereka.

“Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).[21]

Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi SAW.Ketiga, tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati.



BERZIARAH KEMAKAM RASULULLAH
Berkunjung kemakam Rasulullah merupakan amalan sunnah, yakni amalan yang sangat mulia dan sangat dianjurkan. Ibn Umar mengatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda yang arinya : “Barang siapa berziarah kemakamku, maka ia dijamin akan mendapat syafaatku.” [22]

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW.Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya.

Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni)

Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: ”Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam”.

Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar.

Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya.

Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW:

“Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada.” (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449)

Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar : “Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW.

(Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia.” (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103)[23]

Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.













DAFTAR PUSTAKA

Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2013. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bogor : Pustaka Imam As-syafi’i.

‘Iyad Qodi Ibn Musa Al Yahsubi. 2002. Keagungan Kekasih Allah ‘Muhammad Saw’. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Abdullah Thaha Al-‘afifi. 2007. Sifat dan Pribadi Muhammad Saw. Jakarta : Darul al-‘arabiyyah.

http://bobhasan.wordpress*com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g.

http://pondok-Abdusshomad*wordpress/about-akhlak -kepada-rasul.

Salamullah, Alaika. 2008. Akhlak Hubungan Vertikal. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.
Putra, semarang. Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul.

http://www.google*com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram.

Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress*com/about/m/mencintai-keluarga-rasul.











[1]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 245.

[2] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 246.

[3] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 249.

[4] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 375.

[5] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 39.

[6] Putra, Semarang, Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim*com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul. Tgl. 30 . 10 . 2014.

[7] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 261.

[8] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 262.

[9] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.

[10] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008. hlm. 51-52.

[11] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 366 – 368.

[12] Bob, Hasan. http://bobhasan.wordpress*com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g. Tgl . 30 . 10. 2014

[13] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 52

[14] http://www.google.com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram. Tgl. 30. 10 . 2014.

[15] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 419.

[16] [16]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 264-266.

[17] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 42-43.

[18] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[19] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 406-407.

[20] Thaha Abdullah Al-‘Afifi, sifat dan pribadi Muhammad, Darul Afaq al-Arabiyyah, Jakarta, 2007. Hlm : 8.

[21] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress*com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[22] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 453.

[23] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad*wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.




Link lain cara membuat makalah yang baik dan benar 

Tersedia contoh makalah unik lainnya tentang pendidikan sepakbola, bola basket, pancasila, biologi sel, fisika

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter